Gabriel Garcia Marquez (naratif dan storytelling)
Jumat, 08 Oktober 2021
Contoh Penulis Sejarah Populer
Kamis, 07 Oktober 2021
Merawat Memori Bangsa Melalui Film
Artikel ini terbit pada koran Harian Rakyat Sumbar, Sabtu-Minggu 28-29 September 2019
Merawat Memori
Bangsa Melalui Film
oleh: Yusuf Kurniawan
Film merupakan karya seni, film
lahir dari perkembangan teknologi dan kebudayaan oleh umat manusia. Film yang
merupakan karya seni adalah seni yang menangkap hampir semua aspek kesenian
dengan kemajuan teknologi yang dikembangkan oleh manusia. Film memainkan peran
penting sebagai media komunikas massa yang berfungsi sebagai pusat informarsi,
edukasi, hiburan dan juga propagada barangkali. Film adalah produk budaya,
karena film merekam atau mengabadikan suatu keadaan jiwa zaman yang hidup,
melalui gambar bergerak yang bisa kita lihat, kita dengar sebagai karya audio
visual pandang dan dengar, film menjadi sebuah objek sumber sejarah, karena dia
selalu merekam peristiwa dari masa ke masa melalui produksi film baik itu film
dokumenter atau film cerita, semua mengandung makna yang bisa di
interprestasikan dan di kaji untuk masa yang akan datang maupun kontemporer.
Indonesia telah banyak melahirkan film dimulai saat negara ini masih dijajah
oleh Kolonial Hindia Belanda. Film yang dibuat era kolonial pertama kali di
buat oleh orang Eropa dan Cina, tetapi mengambil unsur dan cerita lokal yang
ada di Nusantara dan juga penyerapan unsur cerita asing kemudian di buat versi
lokalnya (Nusantara). Film di Indonesia yang berkembang pada wauktu itu di
Batavia (Jakarta) terus menyebar, keseluruh daerah perkotaan dan perkampungan
yang ada, semua orang tertarik dengan fenomena gambar bergerak (moving
picture).
Film sebagai seni yaitu menangkap
sebuah peristiwa. Seni sebagai peristiwa. Ya, ini sebuah perspektif yang
menarik dan menantang untuk melihat seni. Peristiwa! Suatu ungkapan yang
menunjuk suatu kejadian yang tidak bisa kita maknai sepenuhnya namun justru
karena itu kita ingin kembali ke sana terus-menerus. Peristiwa menjadi titik
tolak dan referensi hidup manusia. Hidup kita sehari-hari—baik pribadi maupun
kolektif, entah sadar atau tidak senantiasa bertitik tolak dari suatu peristiwa dan senantiasa
menanti peristiwa-peristiwa baru.[1]
sebuah peristiwa yang tertangkap layar kamera menjadi abadi, karena kamera film
menjadi alat yang mumpuni karena semua unsur masuk, film merekam suatu
kebudayaan manusia yang hidup bisa dilhat lagi. Film kemudian menjadi ingatan
memori. Film adalah memori sosial kolektif, mereka di produksi di tonton oleh
banyak orang pada masa kemudian suatu saat bisa menjadi Vintage[2]
yang dirindukan bahkan di puja berbeda aspresiasinya di masa lalu. Memori film
adalah sejarah publik bagi masyarakat.
Pada tanggal 11 September 1933 di
Rangkas Bitung, Lebak, Banten lahir seorang anak manusia yang pada masa akan
datang menjadi manusia yang peduli dengan kebudayaan. Manusia ini bernama H.
Misbach Yusa Biran, anak dari keluarga Digoelis yang dibuang di Pulau Buru,
Papua. Ayah adalah pemberontak berideologi sosialis dari Padang Panjang sedangkan Ibunya adalah anak dari pejuang
bangsawan Banten yang berani melawan Belanda. Hidup dilingkungan orang
pergerakan membuat pemikiran H. Misbach Yusa Biran berbeda dengan anak-anak
seumurnya pada masa itu, di tambah lagi beliau bersekolah di Taman Siswa
sekolah yang terkenal dengan pendekatan belajar dan kesenian. H. Misbach Yusa
Biran memiliki kedekatan dengan seni sejak dini, disaat anak muda belum senang
fotografi dia sudah memulai belajar fotografi, membuat sandiwara menjadi
sutradara, menulis sajak dan resensi film.
Pada waktu itu Film menjadi bahan hiburan dan alat dagang, untuk mencari uang semata oleh para pembuat film dari etnis Cina dan Eropa saja. Muncul Pribumi Usmar Ismail yang melihat film bukan hanya alat hiburan untuk uang saja, film bisa berfungsi sebagai kampanye ideologi Nasionalisme. Saat itu perlu pemahaman Indonesia sebagai Nation (bangsa) karena baru lepas dari Jepang dan Merdeka serta usai dari pendudkan Belanda kembali melalui Agresi Militer. Indonesia membutuhkan corong penyampai informasi bahwa Indonesia adalah bangsa bebas dan Merdeka. Film terus berkembang makin banyak bermacam jenis dan genre, lahir sutradara baru tak terkecuali H. Misbach Yusa Biran, yang sempat menjadi asisten sutradara Usmar Ismail. H. Misbach terus bergerak di bidang perfilman setelah lepas dari Studio Perfini yang dibangun Usmar Ismail, antara lain membuat skenario dan menyutradarai film, salah satu filmnya yang terkenal yaitu Di Balik Cahaya Gemerlapan (1967). H. Misbach Yusa Biran berhenti dari membuat film sebagai protesnya terhadap dunia film tahun 70an yang banyak memproduksi film porno, H. Misbach berhasil memproduksi film Tauhid di Mekah sebagai film terakhirnya sebelum pensiun dari dunia film. H. Misbach Yusa Biran menyadari bahwa Film ini adalah harta karun kebudayaan bangsa, karena film adalah bagian dari Sejarah masyarakat Indonesia, kemuidan H. Misbach Yusa Biran merintis sebuah Arsip Film yang bernama Sinematek Indonesia. Sinematek Indonesia diriintis sejak Januari 1971 dalam lingkungan LPKJ atau IKJ sekarang, Sinematek ini di beri nama Pusat Dokumentasi film, pada awal bukan mengarsip film, tapi hanya menghimpun dokumen-dokuemn film untuk kepentingan penulisan sejarah film Indonesia dan bahan ajar untuk di Institutut Kesenian Jakarta.
Arsip film baru
muncul tahun 1973, setelah mendapat orientasi di Belanda dan Eropa. Sejak tahun
1973 lembaga ini ambil bagian dalam ajang Festival Film Indonesia(FFI) dan
membuat Pameran Sejarah Film Indonesia. Baru pada 20 Oktober 1975 berdirilah
Sinematek Indonesia (SI) dengan SK Gubernur DKI oleh Ali Sadikin. SI
berkedudukan di gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. SI merupakan bagian
utama Pusat Perfilman ini, bagian lain digunakan sebagai fasilitas ruangan
sekretariat ogranisasi perfilman dan Yayasan Artis Film. Sinematek Indonesia
menjadi lembaga arsip film pertama di Asia Tenggara. Pada tahun 1978 SI
bergabung dalam FIAF (Federation Internasionale des Archives du Film),
dan merupakan arsip film pertama dari Asia yang tergabung dalam Asosiasi Internasional.
SI menjadi tempat belajar dan ziarah bagi akademisi, seniman, dan rakyat biasa
untuk melihat sejarah budaya film
Indonesia, melihat kebudayaan melalui pantulan layar putih.
[1]
[2]
Lesbumi Ketika Muslim Berkesenian
Yusuf Kurniawan
Ketika kita berbicara tentang seni, maka yang terlebih dahulu dibicarakan adalah keindahan. Sudah menjadi fitrahnya manusia menyukai keindahan. Seorang ibu akan lebih berbahagia jikalau ia dikaruniai anak yang indah fisiknya, baik rupa ataupun jasmaninya. Seseorang akan lebih memilih rumah yang indah serta mengenakan pakaian-pakaian yang indah ketimbang semua itu dalam kondisi biasa-biasa saja ataupun buruk. Demikian halnya dengan nyanyian, puisi, syair, sajak, yang juga melambangkan keindahan, maka manusia pun akan menyukainya.[1]
Seni adalah anugerah terindah yang diberi oleh Allah, seni berasal dari hasil budi daya atau cipta rasa dari manusia untuk memenuhi kebutuhan hasrat hidupnya. Seni menunjukan hasil ekspresi Manusia diwujudkan dalam bentuk sebuah karya yang kreatif berupa Ekstetik (harmonisasi) dan Artistik (daya tarik). Allah itu indah dan menyukai keindahan. Inilah prinsip yang didoktrinkan Nabi saw., kepada para sahabatnya. Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terbetik sifat sombong seberat atom.” Ada orang berkata,” Sesungguhnya seseorang senang berpakaian bagus dan bersandal bagus.” Nabi bersabda,” Sesungguhnya Allah Maha Indah, menyukai keindahan. Sedangkan sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).[2]
Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia, Seni yang berkemang adalah seni rupa. Kebanyakan merupakan poster-poster politik dan propaganda perjuangan. Salah satu poster yang cukup populer saat itu berbunyi: “Boeng Ayo Boeng”, merupakan karya kolaborasi Affandi dan Chairil Anwar. Bila pada masa pendudukan Jepang para seniman dilanda ketakutan untuk mengekspresikan keinginan merdekanya melalui karya seni mereka karena tentara Jepang sewaktu-waktu akan menciduk mereka, maka di masa ini mereka lebih bebas berekspresi. Pada masa Revolusi fisik memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan antara 1945-1950 seniman-seniman terkemuka dari Jakarta dan Bandung banyak pindah ke Yogyakarta. Pada masa ini walaupun mengalami gejolak sosial dan politik, seniman modern Indonesia mulai menemukan identitas profesinya. Organisasi dan sanggar seni budaya bermunculan di berbagai wilayah di Jawa, seperti: Yogya, Surakarta, Bandung, Jakarta, serta di Sumatera, seperti di Medan dan Bukittinggi. [3]
Tema kehidupan perjuangan dan keinginan mendokumentasikannya melalui karya seni banyak ditemukan pada masa ini. Setelah perjuangan kemerdekaan tercapai dan revolusi fisik yang menyertainya telah terlampaui. Kondisi sosial politik rakyat Indonesia kembali bergejolak terutama untuk mencari stabilitas dan untuk memenuhi segala kebutuhan yang porak-poranda akibat revolusi. Pemerintahan masih mengalami perubahan-perubahan, dan rakyat kadang terabaikan. Berdasarkan kebijakan politik saat itu muncullah banyak partai. Salah satunya adalah Partai Komunis Indonesia, dengan Joebaar Ajoeb sebagai Sekretaris Umum nya. Sebagai salah satu partai politik yang cukup kuat pada masa itu, PKI memiliki beberapa organisasi yang berafiliasi di bawahnya. Untuk bidang kebudayaan berdirilah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustur 1950. Lekra berkembang sangat pesat dan menjadi organisasi yang populer di antara organisasi-organisasi budaya lain yang berafiliasi pada organisasi politik pada masa itu, seperti : Lembaga Kebudayaan Nasional (afiliasi Partai Nasional Indonesia) Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (afiliasi Partai Nadhatul Ulama) Lembaga Kebudayaan Kristen Indonesia (afiliasi Partai Kristen Indonesia).[4]
“Lesbumi” (Lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia) merupakan lembaga seni-budaya yang di usung oleh NU pada tahun 1950-1960-an. Di lembaga itu para seniman dan budayawan muslim NU berkumpul. Lembaga ini sempat stagnan hingga pasca pemerintahan Soeharto. Lesbumi kembali dihadirkan melalui Muktamar NU ke-30 (1999) dan ke-31 (2004) . Apa yang dilakukan NU merupakan bagian dari semangat kembali ke Khittah 1926 yang menggelindingkan trilogi transformasi: sosio-politik, sosio-kultural dan sosio-ekonomi. Fakta historis ini membedakan kehadiran Lesbumi selama hampir satu dasawarsa terakhir dengan kelahiran awalnya pada dekade 1960-an.[5]
Sejalan dengan penegasan itu, Ketua Lesbumi Al-Zastrow mengatakan, keinginan menghadirkan kembali Lesbumi antara lain juga dilandasi oleh keprihatinan akan fenomena kering dan sepinya agama dari sentuhan kebudayaan sehingga yang tampak adalah penampilan agama yang sangar dan beku, tidak memiliki kelenturan-kelenturan. Agama tidak lagi merupakan sesuatu yang hidup dan bahkan tidak lagi memberi kenyamanan bagi pemeluknya.[6]
Agama dewasa ini, demikian menurut Al-Zastrow, terjebak dalam ritualisme, simbolisme dan formalisme. Dimensi-dimensi kebudayaan dan kesenian sebagai pilar dari sikap kemanusiaan yang sebetulnya tak dapat dipisahkan dari agama itu hilang. Agama berjalan mengisi kemanusiaan tanpa ada sentuhan-sentuhan budaya sehingga terkesan kering, keras, dan kaku.[7]
Atas keprihatinan inilah, maka Lesbumi akan membentuk dewan kebudayaan yang terdiri dari para budayawan, pemikir, intelektual yang memiliki perhatian terhadap masalah kebudayaan Indonesia dan juga seniman dalam segala bentuknya. Lesbumi ingin memberikan peran atau memfasilitasi kesenian yang sifatnya menumbuhkan kreatifitas masyarakat. Program utamanya adalah, melakukan dokumentasi terhadap kesenian masyarakat, bahkan yang langka dan hampir hilang.[8]
NU – dengan mempertimbangkan historisitas Lesbumi – sudah pasti memiliki basis massa pelaku yang terdiri dari seniman dan budayawan. Oleh sebab itu, NU seharusnya mempunyai perhatian khusus pada dunia seni dan budaya serta menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para seniman dan budayawan tersebut.
`Penegasan ini berarti menempatkan warga NU untuk bergumul dengan keprihatinan-keprihatinan yang dihadapi oleh seniman dan budayawan sekaligus mencari jawab atasnya. Konsekuensinya adalah NU harus memperkaya bahtsul masail kebudayaan dan kesenian yang dapat memberikan jawaban atas persoalan-persoalan itu.
Kehadiran Lesbumi, dengan demikian, dapat memberikan alternatif baru dalam berkesenian dengan memberikan tempat bagi unsur keagamaan (Islam) setara dengan kebudayaan melalui sebuah ‘kontestasi’ seni budaya ketimbang sebuah ‘pertarungan politik’. Konteks sejarah ini yang membedakan wajah baru Lesbumi dengan masa awal kelahirannya pada dekade 1960-an. Sikap ‘tengah-tengah’ (moderat) tampaknya coba ditempuh oleh Lesbumi senada dengan garis ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang menjadi landasan sosial-keagamaan NU, organisasi induknya.
Kepustakaan
Choirotun Chisan. Lesbumi Strategi Politik Kebudayaan. Lkis. Yogyakarta : 2008
https://yahyaayyash.wordpress.com/2008/05/31/seni-dalam-islam/
https://www.facebook.com/pg/anaksalemba49/photos/?tab=album&album_id=431278080345899
https://id.wikipedia.org/wiki/Lesbumi
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
Ibid
[7]
Ibid
[8]
Contoh Penulis Sejarah Populer
Gabriel Garcia Marquez (naratif dan storytelling) Ryszard Kapuscinski (reportase sejarah) Simon Schama (sejarah populer)
-
Gabriel Garcia Marquez (naratif dan storytelling) Ryszard Kapuscinski (reportase sejarah) Simon Schama (sejarah populer)
-
Artikel ini terbit pada koran Harian Rakyat Sumbar, Sabtu-Minggu 28-29 September 2019 Merawat Memori Bangsa Melalui Film oleh: Yusuf Kurnia...
-
Artikel (Lesbumi Ketika Muslim Berkesenian), terbit di Harian Singgalang minggu, 29 April 2018 LESBUMI KETIKA...